Jaminan uang kembali, kami memberikan harga yang bersaing, Lanjut Baca

Desa Penglipuran

Ditulis Oleh Bali Tour Pada December 6, 2012

Bangli adalah satu-satunya Kabupaten di Bali yang tidak memiliki pantai sebagai objek wisata. Namun, Bangli memiliki banyak potensi lainnya yang sangat unik sehingga hanya bisa ditemukan di Kabupaten ini, seperti panorama alam dan adat-istiadat unik dari masyarakatnya. Salah satu desa yang memiliki adat-istiadat unik di Bangli adalah Desa Penglipuran. Lokasi desa ini sangat mudah dicapai. Desa ini terletak dekat dengan Kintamani dan memiliki daya tarik yang paling terkenal di bangli, Istana Tampaksiring dan Tirta Empul. Desa ini terletak di Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, sekitar 45 kilometer dari Ibu Kota, Denpasar.

Saat anda memasuki desa, anda akan terkesan dengan arsitektur rumah-rumahnya yang semuanya nampak sama. Kesamaan ini terletak pada bentuk pintu masukknya yang terbuat dari bambu setinggi 2.5 meter, dengan pintu masuk seukuran pas orang dewasa, dan warna rumahnya yang berwarna coklat alami dibuat dari lumpur. Kesamaan lainnya adalah pada pembagian bagian rumah. Sebuah rumah di Penglipuran harus mengikuti aturan komposisi yang terdiri dari sebuah Bale (aula kecil), kamar, dan dapur. Hampir semua bagian rumah ini menggunakan bambu.

Berdasarkan keterangan kepala desa, kesamaan yang bertahan di sini didesain untuk mewujudkan kebersamaan ditengah-tengah penduduk desa. Selain itu, mereka berharap tetap menjaga kelestarian alam dengan tetap menggunakan unsur natural di dalam hidup mereka. Karena komitmen mereka tersebut, desa ini diberi anugrah Kalpataru (penghargaan untuk konservasi alam) dari Pemerintah Indonesia. Namun, akibat modernisasi, beberapa penduduk desa kini mulai menggunakan batu bata untuk membangun dan bukannya bambu. Terkait situasi ini, kepala desa mengatakan bahwa ia mengerti dan mengijinkan beberapa penduduk desa menggunakan bata karena masih alami dan bentuk rumahnya masih mematuhi aturan desa ini.

Harmoni desa ini bukanlah satu-satunya daya tarik di sini. Lingkungan alaminya juga sangat menarik. Dengan tiket masuk sekitar Rp. 7.500 sampai Rp. 10.000 per pengunjung, anda dapat menikmati atmosfir yang menakjubkan dari desa Bali yang sangat klasik. Karena tempat ini sudah menjadi objek wisata utama di Bali, lebih dari 100 orang telah mengunjungi desa ini setiap hari.

Desa ini memiliki panorama yang indah, udara segar, kenyamanan, ketenangan, keheningan, dan keunikan tata letak desa. Hal tersebut didukung oleh keramahan penduduk desa dan kesadaran merekadalam menjaga kelestarian alam. Terlebih lagi, mereka memiliki sistem mereka sendiri dalam menggunakan air dari sumbernya.

Di Penglipuran, desa dibagi menjadi tiga wilayah/zona: parahyangan (kepala), pawongan (tubuh), and palemahan (kaki). Parahyangan adalah bagian desa yang paling disakralkan dan tertinggi di desa ini, sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Di dalam daerah ini, terdapat sebuah pura yang disebut Pura Penataran. Menuruni tangga dari pura ini, anda akan memasuki area pawongan yang terdiri dari pemukiman bagian barat dan timur. Pemukiman ini di bagi oleh jalan utama selebar 3 meter yang terbentang dari ujung utara ke selatan. Di zona pawongan, terdapat 226 kepala keluarga dengan profesi rata-rata sebagai petani, peternak, dan pengrajin bambu. Para pendahulu desa ini mengajarkan agar selalu ramah terhadap lingkungan. Sehingga 40 % dari 120 hektar desa ini adalah hutan bambu. Terlebih lagi, menebang bambu di hutan ini tidak boleh dilakukan dengan sembarangan. Orang yang ingin menebang pohon bambu harus menerima ijin dari pendeta di desa ini.

desa tradisional bali di penglipuran bangli bali

objek wisata desa penglipuran village

Rasa Hormat pada Wanita

Menurut budayawan Ketut Sumarta, karakteritik masyarakat Bali Aga (Bali kuno) adalah rasa hormat yang tinggi kepada kaum wanita. Bentuk rasa hormat ini direalisasikan dalam bentuk “awig-awig” (aturan desa) di Desa Penglipuran. Menurut awig-awig in, laki-laki manapun di desa ini tidak diijinkan menikahi lebih dari satu wanita. Poligami sangat dilarang di sini. Jika seorang laki-laki melakukan poligami entah diketahui atau tidak oleh sang istri, ia akan tetap dihukum. Siapapun yang melanggar peraturan akan dikucilkan, tidak diajak bicara dan tak diijinkan tinggal di rumah istrinya. Bahkan, ia tak akan diijinkan masuk ke Pura.

Di Penglipuran, tempat pengucilan itu disebut Karang Memadu. ukuran tempat ini sangat sempit. Sejak dulu, sampai sekarang Karang Memadu tidak pernah ditinggali, jadi sudah jelas bahwa tidak ada yang pernah melanggar aturan desa ini. Selain Poligami, mencuri dan merampok juga sangat dilarang. Jika seseorang ketahuan mencuri apapun, hukumannya juga berat karena ia harus memberikn setidaknya 5 ayam dengan warna berbeda sebagai persembahan kepada setiap pura leluhur yang ia miliki.

Hal unik lainnya dari desa ini adalah kebiasaan para penduduk desa yang tidak mengkremasi anggota keluarga yang meninggal. Hal ini tidak biasa di Bali karena kremasi juga dikenal sebagai tradisi Ngaben bagi warga Bali. Namun, disini jasad warga hanya dikubur dan tidak dikremasi. Alasan dibalik adat ini terkait dengan usaha melestarikan alam. Dikatakan bahwa mengkremasi jasad akan menghasilkan polusi lingkungan, jadi mereka lebih memilih untuk mengubur jasad keluarganya yang telah meninggal di bawah tanah.

hotel in bangli

Usaha warga desa dalam menjaga kelestarian alam adalah contoh yang sangat baik bagi setiap orang. Desa ini sudah hidup dalam harmoni yang bagus sangat lama karena usaha pelestarian tersebut. Penglipuran adalah desa yang harus anda kunjungi saat menghabiskan liburan di Bali.

Berita lainnya tentang Indonesia :

Komentar tentang artikel ini :